Transformasi Teknologi Zaman Milenium

Transformasi teknologi yang massif sangat terasi di era millennium. Dulu, sebelum tahun 2000 banyak film dan lagu yang bertemakan kecanggihan hidup di era millennium setelah tahun 2000. Contohnya saja sih lagu kosidah yang berjudul “Tahun 2000”. Liriknya ada yang berbunyi, “….tahun 2000 menggunakan mesin, berjalan berlari menggunakan mesin…”, dan Seterus nya dan seterusnya. Ternyata tema-tema yang diangkat dalam lagu ini menjadi kenyataan di era tahun 2000 an ke atas. Sekarang saja di tahun 2018, manusia sudah bisa belanja tanpa dating ke took, meeting tanpa harus ketemu, meneken proyek tanpa tandatangan, transfer uang tanpa harus ke bank. Semua sudah begitu canggih.

Perubahan menuju teknologi canggih ini bukan secara serta-merta. Semua membutuhkan proses yang lumayan Panjang lebih dari satu decade lamanya. Bagi saya tahun 2000 sampai 2010 adalah masa transisi itu menuju revolusi teknologi. Kami generasi 90an merupakan bagian darinya yang terdampak oleh perubahan ini dan harus berusaha menyesuaikan dengan kondisi ini. Bagi generasi orangtua kami, ini sudah sangat sulit untuk dikejar. Untung-untung mereka bisa mengoperasikan smartphone untuk whatsapp atau telpon untuk sekarang.

Buat saya, titik kritis transformasi teknologi terjadi pada tahun 2008 hingga tahun 2013an. Di mana saat itu terjadi lonjakan permintaan terhadap internet, computer, dan laptop. Smartphone saat itu belum dilahirkan (sudah ada namun belum menjadi bagian dari lifestyle orang Indonesia karena harganya mahal). Adanya banyak permintaan laptop dan computer ini adalah bagian dari tergesernya penggunaan mesin ketik menjadi pengolah kata digital. Semua mahasiswa akan membutuhkan pengolah kata digital ini untuk membuat tugas-tugas mereka di kampus.

Tahun 2008 saya baru saja lulus SMA dan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. 2008 merupakan titik transformasi yang menantang bagi generasi kami. Antri di warnet buat ngerjain tugas, antri fotokopi handout kuliah, sampai begadang main PS di rentalan adalah gaya hidup anak kuliahan zaman itu. Teknologi PDA atau layer sentuh pada zaman itu hanya dimiliki oleh businessman atau ekonomi kelas atas. Internet saat itu hanya popular diakses melalui warnet. Jaringan 3G belum merata dan kalau pun ada sudah pasti lemot dan mahal. Teknologi modem untuk internet di laptop baru akan dikenal beberapa tahun setelah 2008.

Awal 2008 saya masuk kuliah, saya tidak punya laptop sendiri. Saat itu popularitas laptop mulai naik namun masih saja laptop merupakan barang mewah. Paling tidak perlu menyiapkan 5 juta jika ingin punya laptop personal yang brand new in box. Alternatifnya, ya sering-sering main ke warnet untuk bikin tugas atau pinjem laptop temen. Bisa dibayangin kehidupan saat itu nggak semudah 2018 ya yang semua hal bisa mudah kita akses 24 jam melalui smartphone kita.

2008 juga sebenarnya gak kuno-kuno amat. Di tahun tahun transformasi teknologi ini terdapat Blackberry yang sangat berjaya menguasai pangsa pasar handphone cerdas. Semua orang berlomba-lomba memiliki Blackberry dengan berbagai macam alasannya. Ada yang suka kualitas kameranya, ada yang suka fitur BBM (Blackberry Messanger nya), ada yang suka buat menaikkan derajat sosialnya. Di tahun ini banyak gerai penjualan handphone khususnya blackberry bertebaran di sepanjang jalan raya. Saya bertahan dengan HP java Sony Erricson K500i. Buat saya K500i lebih cerdas dari Blackberry.

Tahun 2008 saya bisa menyombongkan diri sedikit. Meskipun saya tidak punya laptop sendiri, pengetahuan saya tentang komputer jauh di atas teman-teman saya yang punya. Contoh sederhana, bagi kebanyakan orang HP K500i adalah sampah yang Cuma bisa dipakai SMS dan telfon. Buat saya tidak. HP ini bisa saya gunakan untuk browsing Java, atau bahkan tethering internet connection via Bluetooth (zaman dulu belum ada istilah tether). Mereka yang punya HP Blackberry mungkin tidak tahu bagaimana cara melakukan itu. Atau misalnya penguasaan skill software komputer. Di zamannya saya sudah mahir corel draw dan photoshop yang buat kebanyakan orang waktu itu hanyalah sihir dan dongeng. Semua skill tersebut saya pelajari otodidikan melalui HP sendiri atau pinjem laptop temen. Memang benar semboyan kuno kita, kalau ada niat pasti ada jalan.

Di zaman itu, tak sedikit teman yang menitipkan laptopnya ke saya kalau rusak. Sedikit-sedikit saya sudah paham perbaikan atau install ulang OS atau menyapu virus dari laptop. Tahun 2008, orang belum tahu secara pasti apa itu virus dalam system. Saya sudah selangkah lebih terdepan dari teman-teman saya. Itulah mengapa banyak teman perempuan saya yang jatuh hati pada saya. Ini tips buat laki-laki, jika kalian ingin memesona di mata wanita, jadilah pria yang selangkah lebih smart daripada teman-teman kalian. Selangkah aja gak usah banyak-banyak.

Transformasi teknologi memaksa kita untuk tidak lagi minjem laptop teman. Itu pasti. Karena laptop adalah kebutuhan yang primer bagi mahasiswa. Papers, presentasi, tugas-tugas laiinya harus diselesaikan dengan laptop. Tahun-tahun berikutnya saya membeli laptop pertama saya Asus K43BU. Laptop yang lumayan gahar di masanya. Harganya sudah mulai terjangkau saat itu. Rp 3 jutaan sudah bisa beli laptop Asus dengan VGA gaming. Sampai saat ini laptop ini masih berfungsi dengan baik. Masih siap untuk main PES 2013 sekalipun. Yang ajaib, ga ada dead pixel ditemukan di laptop ini meskipun dulu pakainya kaya kuli lemburan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of