Menjadi Cultural Liaison di Peace Corps Indonesia

Menjadi Cultural Liaison memang bukanlah cita-cita saya. Ini hanya sebuah kesempatan berharga yang saya dapatkan ketika baru saja menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Negeri Malang. Pengalaman terjun ke masyarakat dan membantu orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda agar bisa bertahan dan beradaptasi di lingkungan budaya Indonesia.

Saya lupa persisnya tanggal berapa dan bulan apa, waktu itu pihak International Relation Office Universitas Muhamadiyah Malang membuka lowongan ini. Saya nekat untuk melamar dan alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk bergabung dengan kesatuan CL untuk membatu calon relawan Peace Corps.

Peace Corps sendiri merupakan organisasi sosial dari Amerika Serikat yang bertugas menyalurkan relawan ke negara-negara berkembang di dunia. Relawan-relawan ini bergerak di beberapa bidang. Untuk di Indonesia sendiri relawan ini memiliki tugas mengajar Bahasa Inggris di beberapa kawasan di pulau Jawa. Sempat vacoom selama orde baru, Peace Corps kembali memulai mengirimkan relawannya ke Indonesia pada pemerintahan presiden SBY. Misi-misi yang diemban oleh Peace Corps sendiri adalah misi perdamaian sesuai dengan nama nya.

Untuk sah menjadi seorang CL atau Cultural Liaison, saya harus melengkapi semua persyaratan dan prosedur yang ditetapkan oleh Peace Corps. Salah satu persyaratannya yang gak main-main adalah melampirkan Surat Berkelakuan Baik yang diterbitkan oleh Polres. Biasanya sih untuk lamar pekerjaan kita cukup melampirkan surat ini yang didapat dari Polsek. Lumayan harus mondar mandir ke sana kemari untuk bisa menerbitkan surat ini.

Selain masalah administrasi, Peace Corps mewajibkan calon Cultural Liaison untuk mengikuti TOT (Training for Trainer) selama satu minggu penuh. Hal ini ditujukan agar kita calon CL mampu mengidentifikasi, memahami, dan menyelesaikan masalah-masalah yang mungkin timbul selama proses CL-ing. Hal ini wajar karena yang akan menjadi subyek kegiatannya adalah orang amerika yang memiliki budaya sangat berbeda dengan kita. Kita tentu harus dibekali dengan pengetahuan tentang perbedaan budaya ini dan bagaimana menyikapi perbedaan budaya ini.

Dari TOT saja saya sudah banyak mendapat pelajaran berharga. Karena selama TOT kita juga langsung berinteraksi dengan fasilitator dari Amerika asli. Serasa nambah 2 SKS untuk matakuliah CCU (Cross Culture Differences). Tapi memang betul, di TOT ini kami belajar untuk saling memahami perbedaan budaya. Ditambah lagi cara cara berkomunikasi yang tepat untuk coaching dan counselling.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Para PCT (Peace Corps Trainee, sebutan bagi calon relawan) tiba di Malang dan mengikuti acara pembukaan dan perkenalan dengan para pendamping budaya nya. I was so excited at that time. Sebelumnya saat di TOT kami semua sudah diberikan profil PCT yang akan kita dampingi. Dan di hari itulah mereka dipanggil dan kita melakukan perkenalan untuk pertamakalinya.

Saya mendapatkan bagian group Oro-Oro Ombo A (Oro-Oro Ombo merupakan nama desa di mana para calon relawan ini akan ditempatkan untuk belajar budaya). Ada 4 calon relawan yang bersama saya, yakni Kevin Wong, Nicole Choppin, Helene Hyun, dan John Otwell. Kemudian beberapa bulan kemudian saya ketambahan 5 calon relawan lagi dari Group Oro-Oro Ombo B. Nah yang di group B saya gak terlalu kenal karena saya hanya meneruskan 1 bualn terakhir mendampingi mereka. Di sini saya akan banyak bercerita tentang saya dan Oro-Oro Ombo A saja yang memiliki chemistery dan kedekatan bersama saya dari awal program sampai saat ini.

Ke 4 calon relawan Peace Corps di Oro-Oro Ombo ini tinggal bersama 4 keluarga di desa. Mereka memang sengaja ikut tinggal di keluarga angkat atau yang disebut House Family agar mereka lebih cepat beradaptasi dengan kultur Indonesia. Nantinya setelah mereka lulus dalam masa training ini, mereka akan mengabdi selama 2 tahun mengajar Bahasa Inggris di sekolah-sekolah yang bekerjasama dengan Peace Corps. Ke 4 bule ini tinggal bersama keluarga pak Riduan, Pak Har, dan dua family lagi saya lupa namanya.

Setiap hari para PCT ini menerima kursus bahasa Indonesia yang diberikan oleh lembaga kursus bahasa Indonesia untuk penutur asing. Sebagai seorang CL saya harus mendampingi mereka dari pagi mereka akan berangkat ke kelas bahasa sampai selesai mereka mengikuti kelas bahasa. Setiap pagi saya datang ke House Family untuk menyapa mereka, menanyakan kabar mereka. Jika mereka ada keluhan-keluhan selama program training ini berlangsung, CL adalah yang pertama akan mereka beritahu.

Adaptasi budaya bukanlah hal yang mudah bagi mereka. Di minggu-minggu awal mereka berada di sini adalah waktu-waktu kritis bagi mereka. Sress, kebingungan, alergi, dan masalah-masalah lain bisa jadi muncul di sini. Jika mereka tidak mampu beradaptasi maka akan fatal jadinya untuk mereka. Salah satu yang sangat mengganggu pola hidup mereka adalah masalah makan nasi dan masakan pedas.

Helene Hyunth adalah salah satu yang paling tidak bisa makan pedas. Pedas dalam level apa pun dia sangat tidak bisa toleransi. Pernah suatu ketika saat House Family nya membuat ayam goreng, mereka semua menyantapnya dengan saos ABC pedas. Belum menyadari bahwa saos itu pedas (buat kita sih gak pedas sama sekali), Helene menyantap ayam tersebut dan mencocol sambalnya. Walhasil, ia harus menahan pedasnya sambal tersebut sampai mukanya sangat merah.

Sebagai CL berarti saya bertugas sebagai sahabat terdekat mereka. Yang memberikan masukan ketika mereka berbuat salah atau mereka membutuhkan saran akan sesuatu. Ada pedoman-pedoman khusus yang harus kita ikuti untuk menjaga pergaulan dengan teman-teman calon relawan ini. Selain kami sebagai malaikat mereka, kami juga mengawasi tingkah laku mereka dan melaporkannya ke Peace Corps. Jadi kami harus benar-benar bisa menempatkan diri dengan mereka, kapan harus menjadi baik dan kapan harus tegas dengan segala tindakan mereka. Ya namanya juga remaja seumuran juga, ada kalanya mereka merasa tertekan dengan aturan-aturan yang diberikan oleh Peace Corps dan mencoba untuk bandel. Tugas CL lah untuk memantau mereka.

Salah satu kebandelan yang sulit untuk dibendung adalah budaya minum. Kita semua pasti tahu bahwa minum (minul alkohol atau bir) adalah bagian budaya barat. Peace Corps melarang mereka untuk minum dan mabuk-mabukan selama di Indonesia karena ini bertentangan dengan norma. Tak jarang PCT yang saya dampingi mengajak saya untuk minum atau mencarikan informasi tempat minum di kota Malang. Pernah suatu hari ada bule dari kelompok lain yang merencanakan minum di sebuah cafe dan mereka mengajak semua yang bisa ikut untuk turun minum bersama mereka. Saat itu saya diajak juga oleh Nicole yang mendapat undangan dari teman-teman ini. Mereka semua kemudian berangkat dan mau tidak mau saya harus mendampingi mereka. Tentunya saya tidak ingin terjadi sesuatu dengan mereka saat itu.

Kejadian minum-minum itu lantas terdengar oleh manajemen Peace Corps dan menjadi masalah yang serius. Hal ini terjadi karena ada beberapa PCT yang mabuk berat saat pulang dari bar. Mereka mendapat teguran keras dan diancam dipulangkan karena hal tersebut. Untungnya PCT Oro-Oro Ombo tidak sampai kena tegur keras karena saat itu mereka tidak mabuk dan pulang tepat waktu. Saya akui memang kelompok Oro-Oro Ombo A lumayan disiplin dan gak neko-neko.

Nah masih banyak keseruan saya selama menjadi Cultural Liaison Peace Corps. Tunggu postingan saya berikutnya. Oh iya saya masih mencari-cari gambar/photo saat itu. Tapi belum ketemu. Nanti postingan ini akan saya update dengan foto-foto tersebut kalau sudah ketemu,

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of